Posted by: ristantoadi | February 22, 2009

israel di mata seorang muslim

Pengalaman menarik seorang Muslim yang traveling
di Israel.

BEBERAPA CATATAN DARI ISRAEL
(Oleh : Luthfi Assyaukani – Paramadina Mulia Jakarta)

Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal berkesan yang
saya dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota Tua yang kecil namun penuh
memori konflik dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga
keramahan orang-orang Israel. Saya kira, siapapun yang menjalani
pengalaman seperti saya akan mengubah pandangannya tentang Israel dan
orang-orangnya.

Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel mengatakan kepada
saya bahwa orang-orang Israel senang informalities dan cenderung rileks
dalam bergaul. Saya tak terlalu percaya dengan promosinya itu, karena
yang muncul di benak saya adalah tank-tank Israel yang melindas anak-anak
Palestina (seperti kerap ditayangkan oleh CNN and Aljazira).
Tapi, sial, ucapan diplomat itu benar belaka. Dia bukan sedang
berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari sekitar 15 lembaga yang
berbeda menunjukkan bahwa orang-orang Israel memang senang dengan
informalities dan cenderung bersahabat.

Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi mengeluarkan
joke-joke terbaiknya tentang kegilaan orang Yahudi. Dia mengaku
mengoleksi beberapa joke tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur yang
katanya “more jewish than me.” Dalam jamuan lunch, seorang diplomat
Israel berperilaku serupa, membuka hidangan dengan cerita jenaka tentang
persaingan orang Yahudi dan orang Cina.

Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari cerita tentang
Israel. Pada satu sisi, manusia di negeri ini tak jauh beda dengan
tetangganya yang Arab: hangat, humorous, dan bersahabat. Atau semua
budaya Mediteranian memang seperti itu? Tapi, pada sisi lain, dan ini
yang membedakannya dari orang-orang Arab: kecerdasan orang-orang Israel
di atas rata-rata manusia. Ini bukan sekadar mitos yang biasa kita
dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas.
Mungkin ini yang menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya
itu tak pernah bisa menandingi Israel.

Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan sendirinya ketika
kita bergaul dengan seseorang. Tidak yang laki-laki, tidak yang
perempuan, semua orang Israel yang saya ajak bicara memancarkan kesan
itu. Patutlah bahwa sebagian peraih nobel dan ilmuwan sosial besar
adalah orang-orang Yahudi.

Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang Israel, paling tidak
para pejabat, pemikir, budayawan, diplomat, penulis, dan profesional,
yang saya jumpai, semuanya lancar dan fasih berbahasa Arab.
Mereka senang sekali mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Arab.
Berbahasa Arab semakin membuat kami merasa akrab. Belakangan baru saya
ketahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa formal/resmi Israel. Orang Israel
boleh menggunakan dua bahasa, Ibrani dan Arab, di parlemen, ruang
pengadilan, dan tempat-tempat resmi lainnya.

Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja sangat cerdas, bukan
sekadar mengakomodir 20 persen warga Arab yang bermukim di Israel.
Dengan menguasai bahasa Arab, orang-orang Israel telah memecah sebuah
barrier untuk menguasai orang-orang Arab. Sebaliknya, orang-orang Arab
tak mengerti apa yang sedang dibicarakan di Israel, karena bahasa Ibrani
adalah bahasa asing yang bukan hanya tak dipelajari, tapi juga dibenci
dan dimusuhi. Orang-orang Israel bisa bebas menikmati televisi, radio,
dan surat kabar dari Arab (semua informasi yang disampaikan dalam bahasa
Arab), sementara tidak demikian dengan bangsa Arab.

Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras, benar, jika kita
melihatnya di airport dan kantor imigrasi. Mereka memang harus melakukan
tugasnya dengan benar. Di tempat2 strategis seperti itu, mereka memang
harus serius dan tegas, kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka, yang
diincar dari delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya.

Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport dan kantor2
imigrasi (termasuk kedubes dan urusan visa). Israel dibangun dari
sepotong tanah yang tandus. Setelah 60 tahun merdeka, negeri ini menjadi
sebuah surga di Timur Tengah. Lihatlah Tel Aviv, jalan-jalannya seperti
avenues di New York atau Sydney. Sepanjang pantainya mengingatkan saya
pada Seattle atau Queensland. Sistem irigasi Israel adalah yang terbaik
di dunia, karena mampu menyuplai jumlah air yang terbatas ke ribuan
hektar taman dan pepohonan di sepanjang jalan.

Bangsa Israel akan membela setiap jengkal tanah mereka, bukan karena ada
memori holocaust yang membuat mereka terpacu untuk memiliki sebuah negeri
yang berdaulat, tapi karena mereka betul-betula bekerja keras menyulap
ciptaan Tuhan yang kasar menjadi indah dan nyaman didiami.
Mereka tak akan mudah menyerahkan begitu saja sesuatu yang mereka bangun
dengan keringat dan darah. Setiap melihat keindahan di Israel, saya
teringat sajak Iqbal:

Engkau ciptakan gulita
Aku ciptakan pelita
Engkau ciptakan tanah
Aku ciptakan gerabah

Dalam Taurat disebutkan, Jacob (Ya’kub) adalah satu-satunya Nabi yang
berani menantang Tuhan untuk bergulat. Karena bergulat dengan Tuhan
itulah, nama Israel (Isra-EL, orang yang bergulat dengan Tuhan)disematkan
kepada Jacob. Di Tel Aviv, saya menyaksikan bahwa Israel menang telak
bergulat dengan Tuhan.

Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah yang mereka sulap
dari bumi yang tandus menjadi sepotong surga. Bahwa mereka punya alasan
historis untuk melakukan itu, itu adalah hal lain. Pembangunan bangsa,
seperti kata Benedict Anderson, tak banyak terkait dengan masa silam, ia
lebih banyak terkait dengan kesadaran untuk menyatukan sebuah komunitas.
Bangsa Yahudi, lewat doktrin Zionisme, telah melakukan itu dengan baik.

Melihat indahnya Tel Aviv, teman saya dari Singapore membisiki saya:
“orang-orang Arab itu mau enaknya saja. Mereka mau ambil itu Palestina,
setelah disulap jadi sorga oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka
buat saja di negeri mereka sendiri surga seperti Tel Aviv ini?” Problem
besar orang-orang Arab, sejak 1948 adalah bahwa mereka tak bisa menerima
“two state solution,” meski itu adalah satu-satunya pilihan yang
realistik sampai sekarang. Jika saja orang-orang Palestina dulu mau
menerima klausul itu, mungkin cerita Timur Tengah akan lain, mungkin tak
akan ada terorisme Islam seperti kita lihat sekarang, mungkin tak akan
ada 9/11, mungkin nasib umat Islam lebih baik. Bagi orang-orang Arab,
Palestina adalah satu, yang tak bisa dipisah-pisah. Bagi orang-orang
Israel, orang-orang Palestina tak tahu diri dan angkuh dalam kelemahan.

Sekarang saya mau cerita sedikit tentang Kota Tua Jerussalem, tentang
al-Aqsa, dan pengalaman saya berada di sana. Percaya atau tidak, Kota Tua
tidak seperti yang saya bayangkan. Ia hanyalah sekerat ladang yang berada
persis di tengah lembah. Ukurannya tak lebih dari pasar Tanah
Abang lama atau Terminal Pulo Gadung sebelum direnovasi. Tentu
saja,sepanjang sejarahnya, ada perluasan-perluasan yang membentuknya
seperti sekarang ini. Tapi, jangan bayangkan ia seperti Istanbul di Turki
atau
Muenster di Jerman yang mini namun memancarkan keindahan dari kontur
tanahnya. Kota Tua Jerussalem hanyalah sebongkah tanah yang tak rata dan
sama sekali buruk, dari sisi manapun ia dilihat.

Sebelum menuruni tangga ke sana, saya sempat melihat Kota Tua dari atas
bukit. Heran seribu heran, mengapa tempat kecil yang sama sekali tak
menarik itu begitu besar gravitasinya, menjadi ajang persaingan dan
pertikaian ribuan tahun. Saya berandai-andai, jika tak ada Golgota, jika
tak ada Kuil Sulayman, dan jika tak ada Qubbah Sakhra, Kota Tua hanyalah
sebuah tempat kecil yang tak menarik. Berada di atas Kota Tua, saya
terbayang Musa, Yesus, Umar, Solahuddin al-Ayyubi, Richard the Lion
Heart, the Templer, dan para penziarah Eropa yang berbulan-bulan
menyabung nyawa hanya untuk menyaksikan makam, kuburan, dan salib-salib.
Agama memang tidak masuk akal.

Oleh Guide kami, saya diberitahu bahwa Kota Tua adalah bagian dari
Jerussalem Timur yang dikuasai Kerajaan Yordan sebelum perang 1967.
Setelah 1967, Kota Tua menjadi bagian dari Israel. “Dulu,” katanya, “ada
tembok tinggi yang membelah Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat.
Persis seperti Tembok Berlin. Namun, setelah 1967, Jerussalem menjadi
satu kembali.” Yang membuat saya tertegun bukan cerita itu, tapi
pemandangan kontras beda antara Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat
dilihat dari ketinggian. Jerussalem Timur gersang dan kerontang,
Jerussalem Barat hijau dan asri. Jerussalem Timur dihuni oleh sebagian
besar Arab-Muslim, sedangkan Jerussalem Barat oleh orang-orang Yahudi.

Saya protes kepada Guide itu, “Mengapa itu bisa terjadi, mengapa
pemerintah Israel membiarkan diskriminasi itu?” Dengan senyum sambil
melontarkan sepatah dua patah bahasa Arab, ibu cantik itu menjelaskan:
“ya akhi ya habibi, kedua neighborhood itu adalah milik privat, tak ada
urusannya dengan pemerintah. Beda orang-orang Yahudi dan Arab adalah,
yang pertama suka sekali menanam banyak jenis pohon di taman rumah
mereka, sedang yang kedua tidak. Itulah yang bisa kita pandang dari
sini, mengapa Jerussalem Barat hijau dan Jerussalem Timur gersang.”
Dough! Saya jadi ingat Bernard Lewis: “What went wrong?”

Ada banyak pertanyaan “what went wrong” setiap kali saya menyusuri
tempat-tempat di Kota Tua. Guess what? Kota Tua dibagi kepada empat
perkampungan (quarter): Muslim, Yahudi, Kristen, dan Armenia. Pembagian
ini sudah ada sejak zaman Salahuddin al-Ayyubi. Menelusuri perkampungan
Yahudi sangat asri, penuh dengan kafe dan tempat-tempat nongkrong yang
cozy. Begitu juga kurang lebih dengan perkampungan Kristen dan Armenia.
Tibalah saya masuk ke perkampungan Muslim. Lorong-lorong di sepanjang
quarter itu tampak gelap, tak ada lampu, dan jemuran berhamburan di
mana-mana. Bau tak sedap terasa menusuk.

Jika pertokoan di quarter Kristen tertata rapi, di quarter Muslim, tampak
tak terurus. Ketika saya belanja di sana, saya hampir tertipu soal
pengembalian uang. Saya sadar, quarter Muslim bukan hanya kotor, tapi
pedagangnya juga punya hasrat menipu.

Namun, di antara pengalaman tak mengenakkan selama berada di perkampungan
Islam adalah pengalaman masuk ke pekarangan al-Aqsa (mereka menyebutnya
Haram al-Syarif). Ini adalah kebodohan umat Islam yang tak
tertanggulangi, yang berasal dari sebuah teologi abad kegelapan. You know
what? Saya dengan bebasnya bisa masuk ke sinagog, merayu Tuhan di tembok
ratapan, dan keluar-masuk gereja, tanpa pertanyaan dan tak ada penjagaan
sama sekali.

Tapi begitu masuk wilayah Haram al-Syarif, dua penjaga berseragam tentara
Yordania dengan senjata otomatis, diapit seorang syeikh berbaju Arab,
menghadang, dan mengetes setiap penziarah yang akan masuk.
Pertanyaan pertama yang mereka ajukan: “enta Muslim (apakah kamu
Muslim)?” Jika Anda jawab ya, ada pertanyaan kedua: “iqra
al-fatihah(tolong baca al-fatihah). ” Kalau hafal Anda lulus, dan bisa
masuk, kalau tidak jangan harap bisa masuk.

Saya ingin meledak menghadapi mereka. Saya langsung nyerocos saja dengan
bahasa Arab, yang membuat mereka tersenyum, “kaffi, kaffi, ba’rif enta
muslim (cukup, cukup, saya tahu Anda Muslim).” Saya ingin meledak
menyaksikan ini karena untuk kesekian kalinya kaum Muslim
mempertontonkan kedunguan mereka. Kota Tua adalah wilayah turisme dan
bukan sekadar soal agama. Para petinggi Yahudi dan Kristen rupanya
menyadari itu, dan karenanya mereka tak keberatan jika semua pengunjung,
tanpa kecuali, boleh mendatangi rumah-rumah suci mereka.

Tapi para petinggi Islam rupanya tetap saja bebal dan senang dengan rasa
superioritas mereka (yang sebetulnya juga tak ada gunanya). Akibat
screening yang begitu keras, hanya sedikit orang yang berminat masuk
Haram al-Syarif. Ketika saya shalat Maghrib di Aqsa, hanya ada dua saf,
itupun tak penuh. Menyedihkan sekali, padahal ukuran Aqsa dengan seluruh
latarnya termasuk Qubbat al-Shakhra sama besarnya dengan masjid Nabawi di
Madinah. Rumah Tuhan ini begitu sepi dari pengunjung.

Tentu saja, alasan penjaga Aqsa itu adalah karena orang-orang non-Muslim
haram masuk wilayah mesjid. Bahkan orang yang mengaku Muslim tapi tak
pandai membaca al-Fatihah tak layak dianggap Muslim. Para penjaga itu
menganggap non-Muslim adalah najis yang tak boleh mendekati rumah Allah.

Saya tak bisa lagi berpikir. Sore itu, ingin saya kembali ke tembok
ratapan, protes kepada Tuhan, mengapa anak bontotnya begitu dimanja
dengan kebodohan yang tak masuk akal.

———
Luthfi Assyaukani (orang Paramadina Mulia Jakarta) yang menganggap teks
Al-Qur’an mengalami copy editing oleh para sahabat. Ungkapan untuk
meragukan kemurnian Al-Qur’an ini disiarkan lewat internet JIL,
islamlib.com : “Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya
adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami
berbagai proses copy-editing oleh para sahabat, tabi’in, ahli bacaan,
qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan.” (Islamlib.com
–Merenungkan Sejarah Alquran,

sumber


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: