Posted by: ristantoadi | February 22, 2009

dogfight di bawean, 3 juli 2003

Perang Elektronika di Kawasan Bawean

SELAMA tiga menit hari Kamis 3 Juli lalu, sempat terjadi perang elektronika seru di atas Laut Jawa, sebelah barat laut Pulau Bawean, antara pesawat tempur supersonik mesin tunggal F-16 Fighting Falcon TNI AU dengan jet tempur supersonik bermesin ganda F-18 Hornet Angkatan Laut AS. Perang elektronika ini tambah seru lagi karena pada saat bersamaan, Hornet terus-menerus mengunci (lock) sasaran F-16 dengan peluru kendali yang siap setiap detik ditembakkan ke sasarannya.

D>small 2small 0< Hornet US Navy bersikap hostile (bermusuhan) saat berjumpa di atas perairan Bawean dengan dua F-16 Indonesian Air Force (IAF) Pangkalan Udara Madiun, Jawa Timur. Hari itu kedua pesawat IAF mendapat tugas untuk mengidentifikasi empat pesawat tak dikenal yang bermanuver dalam jalur penerbangan sipil Green 63 dekat Pulau Bawean atau sekitar 66 mil laut dari Surabaya. Manuver mereka mengganggu lalu lintas penerbangan komersial yang menggunakan jalur tersebut dan terlihat visual oleh awak kokpit pesawat Boeing 737-200 Bouraq yang tengah menuju Surabaya.

Kedua pesawat Hornet yang menghadang dua F-16 TNI AU melancarkan aksi jamming radar pesawat IAF. Namun, para penerbang F-16 mampu mengatasi perang ECM (Electronic Counter Measure) yang dilancarkan Hornet. Kedua F-16 mengatasinya dengan menghidupkan perangkat anti-jamming kemudian memasang alatnya pada moda otomatis sehingga usaha untuk menutup “mata” F-16 tidak berhasil dilakukan Hornet.

Kedua F-16 dalam kecepatan tinggi, sekitar 800 km per jam, masih tetap bisa melihat dengan baik posisi kedua pesawat Hornet. Bahkan, sejumlah Hornet lain yang dikirim oleh kapal induknya juga termonitor pada layar radar F-16. Tidak hanya itu, F-16 bila ingin dapat pula melepas rudal Sidewinder-nya ke sasaran Hornet.

“Menegangkan sekali. Mereka sudah lock (kunci) pesawat kami, tinggal menembak saja. Itu dapat dilihat pada layar (display) ada tanda bahwa kami sudah di-lock,” ujar Kapten Ian Fuady, yang bersama Kapten Fajar mengawaki F-16 dengan call-sign Falcon 1 dalam paparannya di hadapan rombongan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Chappy Hakim, di Pangkalan Udara Iswahjudi, Madiun, hari Sabtu (5/7).

Guna menghindari dari peluru kendali yang bakal dilepas Hornet, awak F-16 melakukan beberapa manuver penghindar, antara lain hard break ke kiri dan ke kanan atau zig-zagging yang awaknya sampai terkena efek 9g atau sembilan kali gravitasi tarikan Bumi. Manuver ini adalah gerakan yang bisa melepaskan diri dari lock peluru kendali.

“Namun, selama itu posisi kami (Falcon 1 maupun Falcon 2) berada pada posisi menguntungkan, bisa pula (kalau mau) menembak mereka,” tambahnya. Namun karena tugas kedua F-16 adalah misi identifikasi, mereka tidak menunjukkan sikap bermusuhan terhadap kedua F-18 Hornet.

Sikap bermusuhan kedua Hornet memudar setelah Kapten Tonny dan Kapten Satriyo melakukan manuver rocking the wing (menggerak-gerakan sayap) F-16 bernomor ekor TS-1602, isyarat internasional bahwa pesawat F-16 bernomor ekor TS-1603 yang diawaki Kapten Ian dan Kapten Fajar tidak mengancam.

Pangkalan Udara Iswahjudi yang hanya terletak sekitar 20 menit penerbangan diperintahkan Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional II Marsekal Muda Teddy Sumarno untuk mengirim pesawat F-16 ke lokasi, antara lain karena ada keluhan dari pesawat Bouraq Indonesia Airlines dan Mandala Airlines yang merasa terganggu atas manuver (latihan) yang dilakukan oleh sedikitnya lima Hornet. Jet tempur tersebut berasal dari kapal induk bertenaga nuklir, USS Carl Vinson, yakni super-carrier kelas Nimitz yang sedang berlayar dari arah barat ke timur bersama dua fregat dan sebuah kapal perusak Angkatan Laut AS. Kapal induk kelas Nimitz mengangkut 100 pesawat tempur, 16 pesawat pengintai, dan enam helikopter, diawaki oleh 3.184 kelasi dan perwira, 2.800 pilot dan awak pendukungnya, serta 70 personel lainnya. Kapal induk ini juga memiliki kemampuan melakukan perang elektronika.

Sudah dapat dipastikan, jamming yang dilakukan terhadap kedua F-16 Indonesia tidak dilakukan USS Vinson maupun kapal perusak US Navy. “Kalau mereka yang melakukan, di layar akan keluar kata ’unknown’,” kata Komandan Skadron 3 Letkol Tatang Herliansyah yang diapit oleh keempat penerbang F-16 yang melaksanakan tugas identifikasi tersebut.

Dalam aturan internasional, jalur penerbangan komersial tidak boleh dipakai untuk manuver provokatif, apalagi sampai membahayakan pesawat lain. Pesawat apa pun yang menggunakan jalur ini harus melapor ke menara, dalam hal ini ke menara Bandar Udara Juanda (Surabaya Director). Laporan tersebut berkaitan erat dengan keselamatan penerbangan yang dituangkan dalam peraturan internasional ICAO (International Civil Aviation Organisation).

Mungkin menurut pengamatan Kompas, jika saja pesawat Hornet yang tengah mengawal konvoi kapal perang AS itu melapor keberadaannya, insiden 3 Juli kemarin kemungkinan tidak seheboh sekarang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: